Category: Books
Genre: Comics & Graphic Novels
Author: Akira Nagai & Taro Nogizaka

Akira Kato, asisten profesor di RS Mei Shin, berniat untuk melakukan reformasi internal sistem yang korup dan feodal di tempatnya bekerja. Langkah awal mencapai tujuannya adalah meraih posisi bergengsi sebagai profesor. Atas dasar itu ia menyusun sebuah thesis mengenai operasi jantung yang cukup rumit, Batista.

Sebagai bagian dari strategi membentuk tim bedah Batista yang solid, Kato mencoba merekrut seorang dokter bedah jenius yang “tersisihkan” dari masyarakat kedokteran Jepang karena sikapnya yang amat idealis dan anti kompromi, Asada Ryutaro. Kompetensi dokter satu itu tidak diragukan, tim kerjanya ketika bergabung dengan NGO terkenal dengan sebutan kehormatan “Team Medical Dragon”.

Setelah melalui pertemuan awal yang alot, Asada sepakat bergabung dengan Kato ke RS Mei Shin. Berturut-turut anggota tim Batista direkrut, perawat Miki Satohara, dan dokter trainee, Ijyuuin Noboru. Selain keberhasilan operasi Batista, apakah sikap anti kompromi Asada mampu bertahan dalam lingkungan RS Mei Shin?

Saat membaca bagian awal sempat dikejutkan oleh “perilaku” liar Asada dengan Miki, yang sebetulnya akan dijelaskan kemudian di manga Team Medical Dragon ini. Cerita kemudian berkembang menjadi menarik, penuh dengan istilah teknis kedokteran dan penjelasan mengenai suasana di RS Jepang sekelas Mei Shin.

Karakter Asada sendiri digambarkan sempurna bak pahlawan, idealis. Sebuah karakter imajiner yang jarang ditemukan di dunia nyata karena itu agak kurang lekat dengan bumi. Dari segi keahlian, dia memang mengagumkan seperti jagoan pada umumnya, namun untuk masalah kedekatan emosional dan pengembangan karakter, Akira Kato dan Ijyuuin Noboru terasa lebih manusiawi karena mereka bergulat dengan ambisi sekaligus hati nurani. Tokoh seperti Asada Ryutaro tidak akan bisa eksis di dunia kerja RS Mei Shin bila tidak di back-up oleh kemampuan diplomatis dan taktis seorang Kato. Mereka akan tergilas birokrasi.

Mengenai gambar ada sebuah tanda tanya besar, apakah Taro Nogizaka spesialis pembuat manga kung fu? Karena para karakter, digambarkan dengan raut “sangar” (baca : KEKAR) Asada mengingatkan pada tokoh jagoan di cerita kung fu Street Fighter, dokter-dokter lain mirip musuh-musuhnya (sempat tertawa melihat sosok dokter Kito). Akira Kato, yang tinggi langsing bak peragawati, rambutnya digelung ala Chun Li. Miki Satohara juga berperawakan khas gadis-gadis action manga berdada besar yang sering dijadikan fans service.
Kapan, ya, ditengah kesibukan semua dokter menyempatkan diri fitness? Mungkin perlu diwajibkan program itu dengan undang-undang, hm…

Satu lagi, mengenai detail penggunaan pelindung rambut bagi staff operasi, disini terlihat bagai aksesoris belaka, jika kita perhatikan bagaimana ujung poni panjang para tokoh tidak tanggung-tanggung masih menyembul keluar. Memang untuk tujuan identifikasi bagi pembaca, namun bagaimana kalau ada rambut dokter yang “ketinggalan” di rongga dada pasien? Ouch!

Team Medical Dragon layak dibaca bagi mereka yang menghargai manga bermutu dan tidak malas menelusuri istilah-istilah medis. Bukan kebetulan juga jika akhirnya kisah ini berhasil meraih penghargaan bergengsi Shogakukan Manga Award ke 50. Walaupun salah seorang begawannya, Dr.Akira Nagai, telah meninggal dunia tahun 2005 lalu. Manga ini memang telah menjadi sebuah legenda di genrenya setelah era “Black Jack”.

Rating : 17+